Saturday, September 17, 2016

Woohoo! Ke Nijntje Museum

Saya punya teman baik yang tinggal di lain kota. Suatu hari dia menawari saya untuk ketemuan di kota Utrecht yang letaknya di tengah- tengah, sekalian mengunjungi Nijntje Museum untuk menyenangkan anak laki lakinya yang berumur 1 tahun. Saya setuju dengan tawarannya dan kebetulan hari itu saya libur kerja. 

Tapi siapa itu Nijntje, kok sampai dijadikan sebuah museum? Nijntje adalah tokoh kartun dalam rupa seekor kelinci yang diciptakan oleh Dick Bruna di tahun 1955 dan sampai sekarang menjadi salah satu tokoh kartun favorit anak anak Belanda. 

http://www.leukedingendoen.nl/tips/details/496/winkel-van-nijntje

Buku cerita Nijntje (yang dalam bahasa Inggris disebut Miffy) ada total sekitar 30 buah dan sudah diterjemahkan di sekitar 50 bahasa dan buku ini rata rata digemari oleh anak usia bayi sampai 8 tahun (tergantung ceritanya). 

Saya sendiri punya dua buku Nijntje (dulu ceritanya jadi oleh-oleh suami saya ketika dia berkunjung ke Indonesia) agar saya mengenali Nijntje dan belajar bahasa Belanda haha

Monday, September 5, 2016

Merdunya Suara Tia dan Katon di Melkweg

Rejeki memang tidak kemana ya. Beberapa waktu lalu saya mau komen postingan seorang teman baik di sosial media dan saya melihat flyer konser Tia AFI dan Katon Bagaskara di Amsterdam. Meski bukan penggemar setia dari keduanya namun saya suka lagu-lagunya Katon dan suka suaranya Tia AFI. Siapa sih yang gak kenal mereka? Hehe

Saya mengajak suami saya siapa tahu dia mau ikut. Gak maksa sih karena bisa jadi dia gak mau (gak ngeh lagu Indonesia dan gak tahu seberapa bekennya artis2 ini) tapi ternyata dianya mau. Haha, oke akhirnya dua tiket dipesan via online. 

Hari itu hari Sabtu 3 September 2016. Saya awalnya sih ngajak suami naik bis saja ke lokasi karena (1) saya perkirakan akan hujan dan (2) gak mungkin pakai kendaraan pribadi mengingat tarif parkir di pusat kota Amsterdam bikin kantong kempis. (Gak hanya di Amsterdam tapi di kota-kota besar seperti Den Haag dll). Setelah berkompromi toh akhirnya kami naik sepeda ke lokasi. 


https://www.melkweg.nl/nl/

Tuesday, July 26, 2016

Makan Ikan Bakar di Den Haag

Tinggal jauh dari kampung halaman tidak jarang bikin kangen dengan masakan tanah air. Setelah lebih dari dua tahun tinggal disini, kecintaan saya kepada masakan Indonesia juga tidak luntur meski memang tidak mengkonsumsi nasi setiap harinya karena menyesuaikan dengan kondisi setempat misalnya : 

- bertamu dan dijamu makan malam kentang tumbuk dan sayur. Gak logis kalau saya gak makan dan minta nasi lalap hehe

- pengen gorengan di pinggir jalan macam bakwan, mendoan dan tahu isi. Disini gorengan modelnya lumpia, kroket dan ikan filet / udang / kerang goreng. Ya sudah seadanya. :) 

Teman teman saya terkadang kejam dengan pamer menu makan mereka. Saya tidak perlu dipameri steak atau makanan dari restoran mahal di Indonesia, tapi uploadan sebungkus nasi kucing dari angkringan atau nasi bancakan (kendurian) kadang mampu bikin saya baper lho. Terkadang saya juga gak tergoda. Hehe tergantung kondisi dan situasi kayaknya. 

Nasi urap, penyebab baper

Monday, July 25, 2016

MENILIK MEGAHNYA BANGUNAN ROMAWI

Setelah memetik buah dan sayuran, kami kemarin melanjutkan perjalanan ke sebuah kota yang tak jauh dari perbatasan Belanda dan Jerman, Xanten. Waktu dengar pertama kali nama kota ini, saya geli dan bilang ke suami saya apa artinya Xanten (yang dilafalkan 'santen') di dalam bahasa Jawa. 

"Kok jadi santan kelapa sih artinya.." katanya kemudian. :)

Ada apa di Xanten? 

Ada sebuah tempat wisata arsitektur yang menarik di kota ini yaitu Archeologische Park Xanten. Museum terbuka yang dibuka sejak tahun 1977 ini menampilkan bangunan asli (tentunya sudah tidak utuh lagi) dan bangunan rekonstruksi dari jaman Romawi. Bangunan yang ada adalah peninggalan kota koloni Romawi bernama Colonia Ulpia Traiana yang tentu saja dulu berlokasi di kota Xanten, Jerman ini. 

Ini adalah rencana spontan yang awalnya saya kurang setuju. Saya terus terang bukan pecinta museum dan penikmat bangunan jaman kuno (candi sedikit suka sih..). Kalau lihat bangunannya secara fisik saya suka cuma bukan tipe yang betah berjam-jam berkeliling museum dan membaca satu persatu penjelasannya tapi kali kemarin, oke.. saya manut.. :) 



Setelah memarkirkan kendaraan, saya langsung jatuh cinta dengan lokasinya. Mungkin karena dipengaruhi cuaca yang cukup hangat ya.. , kami pun membeli tiket yang dibandrol seharga 9 euro per orang dewasa (kurang lebih 135 ribu rupiah), dan gratis parkir. Itu termasuk harga masuk museum yang relatif murah karena banyak museum yang harga masuknya jauh lebih mahal dari itu dan belum termasuk ongkos parkir misalnya. 



Museum ini dibuka setiap hari sepanjang tahun. Tentu saja waktu buka akan disesuaikan dengan cuacanya. Misalnya di musim dingin, museum ini akan tutup pada jam 4 sore (sudah mulai gelap bo!)

Maket kota. Yang berwarna abu-abu adalah yang sampai saat ini berhasil direkonstruksi. Kami hanya mengunjungi 3-4 bangunan abu-abu.


Oke. Setelah membayar, kita langsung saja menikmati outdoor museum ini yuk! 

PETIK BUAH DI SPRANKENHOF,TILBURG

Mengingat kembali masa kecil / remaja kita tak jarang menyenangkan. Kesibukan kita sehari sehari sekarang, membagi waktu untuk diri sendiri, kuliah, karir, keluarga dan gadget kadang membuat kita merasa under pressure, termasuk suami saya. Nah lo, subjeknya suami. Sempat dia bercerita kalau dia kangen dengan masa remaja dia bekerja sebagai pemetik buah di musim panas. Bekerja sekaligus bersenang senang, berpanas panasan dan dibayar pula. Saya akhirnya diam diam mencari aktivitas yang bisa kami lakukan bersama dan berhubungan dengan memori dia... sebagai hadiah ulang tahunnya. :) 

Setelah browsing di internet, akhirnya saya menemukan sebuah tempat dimana kami bisa memetik buah. Nama tempatnya Sprankenhof dan berada di sebuah desa kecil bernama Udenhout, Tilburg. Jaraknya kurang lebih dua jam mengemudi ke arah selatan dari Amsterdam. Satu bedanya hanya kalau memetik buah / sayur disini, kita sebagai pengunjung yang membayar.