Tuesday, July 26, 2016

Makan Ikan Bakar di Den Haag

Tinggal jauh dari kampung halaman tidak jarang bikin kangen dengan masakan tanah air. Setelah lebih dari dua tahun tinggal disini, kecintaan saya kepada masakan Indonesia juga tidak luntur meski memang tidak mengkonsumsi nasi setiap harinya karena menyesuaikan dengan kondisi setempat misalnya : 

- bertamu dan dijamu makan malam kentang tumbuk dan sayur. Gak logis kalau saya gak makan dan minta nasi lalap hehe

- pengen gorengan di pinggir jalan macam bakwan, mendoan dan tahu isi. Disini gorengan modelnya lumpia, kroket dan ikan filet / udang / kerang goreng. Ya sudah seadanya. :) 

Teman teman saya terkadang kejam dengan pamer menu makan mereka. Saya tidak perlu dipameri steak atau makanan dari restoran mahal di Indonesia, tapi uploadan sebungkus nasi kucing dari angkringan atau nasi bancakan (kendurian) kadang mampu bikin saya baper lho. Terkadang saya juga gak tergoda. Hehe tergantung kondisi dan situasi kayaknya. 

Nasi urap, penyebab baper

Monday, July 25, 2016

MENILIK MEGAHNYA BANGUNAN ROMAWI

Setelah memetik buah dan sayuran, kami kemarin melanjutkan perjalanan ke sebuah kota yang tak jauh dari perbatasan Belanda dan Jerman, Xanten. Waktu dengar pertama kali nama kota ini, saya geli dan bilang ke suami saya apa artinya Xanten (yang dilafalkan 'santen') di dalam bahasa Jawa. 

"Kok jadi santan kelapa sih artinya.." katanya kemudian. :)

Ada apa di Xanten? 

Ada sebuah tempat wisata arsitektur yang menarik di kota ini yaitu Archeologische Park Xanten. Museum terbuka yang dibuka sejak tahun 1977 ini menampilkan bangunan asli (tentunya sudah tidak utuh lagi) dan bangunan rekonstruksi dari jaman Romawi. Bangunan yang ada adalah peninggalan kota koloni Romawi bernama Colonia Ulpia Traiana yang tentu saja dulu berlokasi di kota Xanten, Jerman ini. 

Ini adalah rencana spontan yang awalnya saya kurang setuju. Saya terus terang bukan pecinta museum dan penikmat bangunan jaman kuno (candi sedikit suka sih..). Kalau lihat bangunannya secara fisik saya suka cuma bukan tipe yang betah berjam-jam berkeliling museum dan membaca satu persatu penjelasannya tapi kali kemarin, oke.. saya manut.. :) 



Setelah memarkirkan kendaraan, saya langsung jatuh cinta dengan lokasinya. Mungkin karena dipengaruhi cuaca yang cukup hangat ya.. , kami pun membeli tiket yang dibandrol seharga 9 euro per orang dewasa (kurang lebih 135 ribu rupiah), dan gratis parkir. Itu termasuk harga masuk museum yang relatif murah karena banyak museum yang harga masuknya jauh lebih mahal dari itu dan belum termasuk ongkos parkir misalnya. 



Museum ini dibuka setiap hari sepanjang tahun. Tentu saja waktu buka akan disesuaikan dengan cuacanya. Misalnya di musim dingin, museum ini akan tutup pada jam 4 sore (sudah mulai gelap bo!)

Maket kota. Yang berwarna abu-abu adalah yang sampai saat ini berhasil direkonstruksi. Kami hanya mengunjungi 3-4 bangunan abu-abu.


Oke. Setelah membayar, kita langsung saja menikmati outdoor museum ini yuk! 

PETIK BUAH DI SPRANKENHOF,TILBURG

Mengingat kembali masa kecil / remaja kita tak jarang menyenangkan. Kesibukan kita sehari sehari sekarang, membagi waktu untuk diri sendiri, kuliah, karir, keluarga dan gadget kadang membuat kita merasa under pressure, termasuk suami saya. Nah lo, subjeknya suami. Sempat dia bercerita kalau dia kangen dengan masa remaja dia bekerja sebagai pemetik buah di musim panas. Bekerja sekaligus bersenang senang, berpanas panasan dan dibayar pula. Saya akhirnya diam diam mencari aktivitas yang bisa kami lakukan bersama dan berhubungan dengan memori dia... sebagai hadiah ulang tahunnya. :) 

Setelah browsing di internet, akhirnya saya menemukan sebuah tempat dimana kami bisa memetik buah. Nama tempatnya Sprankenhof dan berada di sebuah desa kecil bernama Udenhout, Tilburg. Jaraknya kurang lebih dua jam mengemudi ke arah selatan dari Amsterdam. Satu bedanya hanya kalau memetik buah / sayur disini, kita sebagai pengunjung yang membayar. 



Friday, June 10, 2016

The New Metro Tunnel and Station in Amsterdam

Nederland yang berarti tanah yang berada di bawah, menuntut orang - orang Belanda bisa mempunyai bangunan yang kokoh dan tahan air. Orang Belanda membangun tanggul tanggul yang kuat, membangun pulau pulau untuk menampung pertambahan penduduk, termasuk juga bandara internasional Schiphol yang sebenarnya terletak -4m di bawah permukaan air laut. 

Satu lagi, di Belanda terkenal dengan terowongannya. Dari awal disini sampai sekarang, saya kadang-kadang masih kagum kalau masuk ke terowongannya (via kendaraan pribadi atau umum dalam hal ini bis). Salah satu terowongannya adalah Ijtunnel di Amsterdam. Terowongan ini dibangun untuk menghubungkan kota Amsterdam pusat dengan Amsterdam utara dan kota kota yang berada di atas kota Amsterdam. Ijtunnel ini ada bagiannya yang dibangun di bawah air, mengingat pentingnya lalu lintas air yang berada diatasnya. 

https://structurae.net/structures/ijtunnel
Ijtunnel mulai dibangun di tahun 1957 selesai di tahun 1968 dan mempunyai panjang 1,682 meter. Kalau Anda lihat foto diatas, ada bangunan besar berwarna hijau, itu adalah bangunan NEMO Science Center yang berada di atas Ijtunnel (NEMO ini kalau saya bilang semacam Taman Pintar seperti di Yogyakarta).

Saturday, May 7, 2016

STREET DINNER 2016

Apa itu Street Dinner?

Artinya sama dengan terjemahannya. Tidak 100% sama karena bukan makan di jalan, hehe.

Jadi Streetdinners ini mengorganisir makan bareng 2-3 per tahun bersama orang yang tinggal disekitarmu atau siapa saja yang tertarik. Tujuannya? Tentu saja kebersamaan dan saling mengenal satu sama lain. Di jaman yang sekarang serba digital dan individual, tidak menjadi kejutan bila kita tidak kenal banyak tetangga atau orang yang ada di sekitar kita. 

Bagaimana saya bisa ikutan Street Dinner? 

Cerita awal, saya bergabung di Taal Cafe. Taal Cafe ini berlangsung dua kali dalam satu bulan, dimana orang orang yang ingin belajar ngobral ngobril dalam bahasa Belanda bisa datang kesini. Setiap pertemuan ada temanya dan kita akan bersama membahas dan bertukar pendapat di acara ini. 


Organisator acara Taal Cafe ini mempunyai agenda untuk Street Dinner di tanggal 5 Mei 2016, dimana bisa ikut makan bareng, ngobrol, dengar musik dan lain lain. Saya tertarik dan saya mendaftarkan diri sebagai salah satu koki (modal nekat, padahal dulunya.. buta memasak dan gak senang memasak). Acara akan dilakukan di luar ruangan (catatan : cuaca bagus). 

Akhirnya saya masuk ke salah satu yang ikutan acara Street Dinner ini. 


Bagaimana lanjutannya?